Sebuah Catatan untuk Hari Anak Nasional
Mengingat tanggal 23 juli kemaren adalah Hari Anak Nasional saya tertarik untuk sedikit memberikan catatan mengenai anak, khususnya kondisi kekinian anak-anak negeri ini. Anak seringkali dianggap sepele oleh segelintir orang atau mungkin kebanyakan orang. Sehingga tidak sedikit anak-anak yang akhirnya tumbuh menjadi orang dewasa yang bermental negatif. Salah satu penyebabnya menurut saya adalah masih banyaknya anak-anak yang kehilangan hak-haknya sebagai seorang anak. Dalam hal ini kapasitas saya bukan seorang pakar psikologi anak, bukan juga sebagai ahli dalam mendidik anak dan bukan juga orangtua yang sangat tahu tentang kondisi seorang anak. Saya berkata demikian hanya sebagai orangtua yang sementara belajar menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya kelak.
Melihat fenomena kekinian, banyak hak-hak anak yang terampas oleh kejamnya sistem hidup yang ada. Mereka menjadi korban dari orang-orang dewasa yang bermental negatif tadi dan telah menjadi orangtua. Orangtua mereka juga dididik oleh orangtua sebelum mereka sama dengan keadaan sebelumnya. Kalau saya melihat ini adalah sebuah mata rantai lingkaran setan yang kalau tidak segera diputus maka masa depan dunia khususnya negeri ini akan semakin suram. Karena anak-anak sebenarnya adalah masa depan. Makanya kita seharusnya jangan menganggap sepele tentang keberadaan mereka, apalagi kita berposisi sebagai orangtua mereka.
Melihat fenomena kekinian, banyak hak-hak anak yang terampas oleh kejamnya sistem hidup yang ada. Mereka menjadi korban dari orang-orang dewasa yang bermental negatif tadi dan telah menjadi orangtua. Orangtua mereka juga dididik oleh orangtua sebelum mereka sama dengan keadaan sebelumnya. Kalau saya melihat ini adalah sebuah mata rantai lingkaran setan yang kalau tidak segera diputus maka masa depan dunia khususnya negeri ini akan semakin suram. Karena anak-anak sebenarnya adalah masa depan. Makanya kita seharusnya jangan menganggap sepele tentang keberadaan mereka, apalagi kita berposisi sebagai orangtua mereka.
Ada beberapa catatan tentang hak-hak anak yang harus dipenuhi agar mereka bisa menatap masa depan yang cerah. Pertama, hak anak mendapat perlindungan dan kasih sayang. Sejatinya sebagai orangtua seharusnya selalu melindungi dan mencintai anak-anaknya. Kalau kita bercermin pada hewan luar biasa mereka dalam hal ini. Tapi terkadang kita tidak bisa mengambil pelajaran darinya. sementara kita sebagai manusia yang mengaku makhluk paling sempurna tidak lebih rendah martabat kita daripada hewan. Sebab tidak banyak anak-anak negeri ini yang mendapat perlakuan keji dari orangtua mereka yang hewan sendiri tidak melakukan itu pada anak-anaknya. Sebut saja beberapa fenomena pencabulan dan pemerkosaan, jual-beli anak, aborsi, penganiayaan, bahkan membunuh anak sendiri.
Ini adalah fenomena-fenomena yang terjadi dikondisi kekinian. Hal ini sangat memiriskan dan menyakitkan bagi seorang anak. Anak seharusnya mendapatkan jaminan hidup dari orangtuanya baik masih di dalam rahim maupun setelah dilahirkan. Lingkungan anak juga seharusnya selalu dipenuhi dengan kedamaian, ketentraman, dan kegembiraan saat berada dalam pelukan dan bimbingan orangtua, bukan sebaliknya. Sehingga anak bisa tumbuh menjadi anak yang baik, punya tata krama dan sopan santun serta berakhlak yang mulia.
Kedua, hak anak mendapatkan pendidikan. Sudah selayaknyalah kita sebagai orangtua yang sadar harus memperhatikan hal ini, karena banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini. Ada orangtua yang hanya memperhatikan kecukupan nafkah saja tapi tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Orangtua kebanyakan hanya memperhatikan kerja, karier dan kedudukan sedang mereka melupakan pendidikan anak-anaknya. Bahkan tidak jarang anak-anak mereka hanya dititipkan kepada pembantu, baby sister ataupun tempat penitipan anak. Sehingga anak-anak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lebih dekat dengan para pengasuh tadi. Mereka tumbuh tanpa bimbingan dan arahan dari orangtua secara langsung, padahal ini adalah hal yang sangat penting dan jarang diketahui oleh orangtua. Orangtua selalu menaruh harapan baik untuk anak-anak meraka ternyata harapan itu justru sebaliknya yang timbul.
Idealnya seorang anak harus mendapatkan pendidikan formal di sekolah-sekolah, tapi anak-anak juga jangan lupa harus mendapatkan pendidikan di dalam keluarga. Ini yang sering dilupakan oleh kebanyakan orangtua. Padahal pendidikan dalam keluarga itulah pondasi karakter anak jika kelak mereka memasuki dunia luar. Sebenarnya sistem pendidikan yang ada sekarang sangatlah tidak cukup untuk menjadikan bekal bagi anak-anak kita dikehidupan mendatang. Tidak heran dengan kondisi negeri yang carut marut ini baik rakyat biasa maupun pejabat sama bobroknya. Apa yang menyebabkan ini bisa terjadi? Bisa jadi karena pendidikan sekarang gagal membangun karakter manusia sebenarnya, ditambah dengan peran serta keluarga dalam hal ini orangtua untuk membantu mendidik anak-anak mereka.
Ketiga, hak anak mendapat nafkah dari orangtuanya. Banyak anak sekarang khususnya anak-anak negeri ini yang kehilangan masa kanak-kanak mereka. Masa kanak-kanak yang seharusnya dihabiskan untuk berlajar dan bermain, tepaksa hilang karena ikut terjun untuk mencari nafkah atau setidaknya dengan dalih membantu orangtuanya. Keadaan seperti ini juga sangat mempengaruhi pendidikan anak dan karakternya. Ini tidak bisa kita katakan salah seratus persen bagi para orangtua yang mempunyai keadaan kehidupan seperti ini. Saya hanya bisa berfikiran positif bahwa hal ini dilakukan karena terpaksa oleh keadaan hidup yang serba sulit sekarang ini. Tapi selayak dan idealnya anak tidak melakukan hal ini selagi kita sebagai orangtua masih kuat dan mampu untuk bekerja menafkahi mereka, sebab ini adalah kewajiban kita sebagai orangtua. Berbeda keadaannya jika kondisi kita yang sakit-sakitan, lemah, tidak berdaya hal yang demikian bisa saja terjadi. Seharusnya pemerintah dalam hal ini penguasa bisa lebih peka dan respon untuk melahirkan regulasi mengentaskan masalah ini.
Demikianlah menurut saya tentang hak-hak seorang anak yang seharusnya dipenuhi oleh orangtua, agar mental negatif setelah mereka tumbuh dewasa nanti bisa diminimalkan. Sebenarnya masih banyak lagi hak-hak yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak. Tapi setidaknya tiga hak dasar diatas bisa dipenuhi terlebih dahulu, untuk menumbuhkan mereka menjadi manusia-manusia dewasa yang berkarakter positif. Sebagai penutup, mengingat anak adalah berkah terindah yang diberikan oleh yang Maha Kuasa, marilah kita sebagai orangtua yang bijak dan bertanggung jawab memenuhi hak-hak anak yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka adalah amanah yang dititipkan kepada kita untuk kita buat lebih baik demi masa depan mereka dan dunia ini pada umumnya. Marilah kita terus belajar menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita. Tulisan saya bukan dimaksud untuk menggurui para orangtua yang membaca tulisan ini, tujuan yang saya inginkan dalam tulisan ini hanya satu yaitu hanya mengingatkan saya, kita sebagai orangtua......[AF]

Posting Komentar untuk "Sebuah Catatan untuk Hari Anak Nasional"