Sekolah Pendidikan Ibu Rumah Tangga; Tertarik ?
Hari ini ada yang menarik buat saya. Seperti biasanya, setiap hari saya menyempatkan diri untuk membuka situs jejaring sosial (twitter,facebook,dll) untuk melihat perkembangan status teman-teman di dunia maya. Tanpa sengaja saya menemukan catatan dari Fahmi Amhar. Menurut saya catatan ini sangat menarik. Beliau mencoba memikirkan bagaimana kalau ada sekolah untuk mendidik para Ibu Rumah Tangga, mengingat sebagian besar perempuan di negeri ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga. Tidak sampai disitu saja, beliau juga mencoba menyusun kurikulum bagi sekolah pendidikan Ibu Rumah Tangga walaupun beliau mengatakan baru khayalan kurikulum. Menarik bukan ? untuk lebih jelasnya simak catatan beliau.
![]() |
| Ilustrasi |
Pasarnya jelas. Setengah penduduk negeri ini adalah wanita! Selama ini, jutaan wanita susah payah sekolah berbiaya mahal dan menjadi sarjana, namun ilmunya tidak berguna bagi hidup mereka. Mereka justru menjadi IBU RUMAH TANGGA tanpa bekal ilmu yang cukup. Mereka hanya mengandalkan pengalaman dari ibu mereka, yang boleh jadi jauh dari memadai. Akibatnya, mereka rugi, suaminya rugi, masyarakat juga rugi - karena benefit yang diharapkan dari keahlian wanita sarjana sebagai ahli pertanian, ahli komputer, ahli ekonomi dsb, ternyata urung diamalkan.
Kalau begitu, kenapa tidak kita buka saja sekolah untuk mencetak WANITA AHLI RUMAH TANGGA? Mereka akan memiliki level berpikir akademis yang tinggi, dan memang disiapkan untuk mengurus rumah tangga. Kalau mereka menikah, mereka akan jadi Ibu Rumah Tangga yang hebat. Namun mereka bisa juga menjadi trainer dan konsultan persoalan rumah tangga bagi jutaan wanita lainnya. Ini kurikulumnya sudah disiapkan. Tinggal siapa yang mau merintis pendiriannya. Sekolah Tinggi Ibu Rumah Tangga yang pertama ...
Pekerjaan paling banyak di Indonesia itu adalah IBU RUMAH TANGGA. Tapi koq belum ada sekolah yang mendidik jadi calon Ibu Rumah Tangga ya? Padahal banyak sekali keahlian yang harus dimiliki seorang Ibu Rumah Tangga. Ini sekedar khayalan kurikulum sebuah "Jurusan Ilmu Rumah Tangga". Gelar akademisnya mungkin "S.IRT" (Sarjana Ilmu Rumah Tangga").
1. Fiqih keluarga & Kepribadian Islam2. Infrastruktur dan teknologi dalam rumah tangga3. Desain interior4. Arsitektur exterior5. Gizi dan nutrisi6. Pengetahuan kuliner7. Fashion dan perawatan pakaian8. Perawatan kecantikan9. Penjagaan kesehatan & kebugaran10. Deteksi & penanganan dini masalah kesehatan11. Olahraga keluarga12. Perencanaan & manajemen keuangan13. Bisnis rumahan14. Bertani di lahan sempit15. Hukum seputar rumah tangga16. Beladiri untuk keluarga17. Manajemen acara keluarga18. Pendidikan anak19. Psikologi keluarga20. Perawatan pasien dan manula21. Perawatan kehamilan dan menyusui22. Media informasi dan komunikasi23. Perencanaan transportasi24. Pengetahuan seputar belanja25. Sosiologi bertetangga26. Kontribusi wanita dalam masyarakat27. Dokumentasi dan informasi keluarga28. Pengembangan kreatifitas anak29. Dakwah di dan dari rumah30. Literatur keluarga31. Metode relaxasi (pijat, yoga)32. Hiburan dan rekreasi islami33. Kesehatan reproduksi34. Tanggap darurat dan kebencanaan35. Politik ramah keluargaAda masukan lagi?
Siapa Fahmi Amhar ? Nama lengkap beliau adalah Prof. Dr. Fahmi Amhar. Beliau lahir di Magelang 15 Maret 1968, menempuh SD sampai SMA-nya di Magelang, sempat kuliah di ITB satu semester. Kemudian memeroleh beasiswa dari program OFP Ristek tahun 1987 yang mengantarnya kuliah di Universitaet Innsbruck dan Technische Universitaet Wien, Vienna Austria, hingga meraih gelar Doktor pada 1997.
Sepulang dari studinya, Fahmi bergabung dengan Pusat Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang hampir 10 tahun dan membidangi berbagai spesifikasi dan prosedur di unit inti Bakosurtanal. Beliau dikukuhkan sebagai Profesor Riset bidang Sistem Informasi Spasial (SIS) dan menjadi profesor riset ke-310 di Indonesia dan ke-2 di Bakosurtanal. Untuk mengenal lebih dekat dengan beliau kunjungi blog beliau DI SINI.

Idenya bagus,tapi untuk mengaplikasikannya langsung ke jenjang pendidikan formal memang agak susah. Kenapa tidak menyederhanakannya saja ke dalam kursus yang diselipkan pada acara2 seperti arisan atau pengajian rutin?
BalasHapus